PERTUMBUHAN SOMATIK REMAJA


PERTUMBUHAN SOMATIK

PADA REMAJA


PENDAHULUAN

Tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan yang terjadi sejak intraterin dan terus berlangsung sampai dewasa. Dalam proses mencapai dewasa inilah anak harus melalui berbagai tahap tumbuh kembang, termasuk tahap remaja. Tahap remaja adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh (growth spurt), timbil ciri-ciri sekunder, tercapai fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan psikologis serta kognitif. Untuk mencapainya tumbuh kembang yang optimal tergantung pada potensi biologiknya. Tingkat tercapainya potensi biologic seorang remaja, merupakan hasil interaksi antara faktor genetic dan lingkungan biofisikopsikososial. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda memberikan ciri tersendiri pada setiap remaja.

Data demografi menunjukan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia. Menurut WHO (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun. Sekitar 900 juta berada dinegara sedang dan berkembang. Data demografi di Amerika Serikat (1990) menunjukan jumlah remaja berumur 10-19 tahun sekitar 15% populasi. Di Asia pasifik dimana penduduknya merupakan 60% dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10-19 tahun. Di Indonesia menurut Biro Pusat Statistik (1999) kelompok umur 10-19 tahun adalah sekitar 22%, yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki dan 49,1% remaja perempuan (dikutip dari Nancy P,2002).

Perhatian pada kelompok umur ini sangat penting, untu itu kita harus mempelajari berbagai hal yang terkait dengan tumbuh kembang remaja termasuk pertumbuhan somatiknya.

DEFINISI

Seringkali dalam pembahasan soal remaja digunakan istilah pubertas dan adoselen. Istilah pubertas untuk menyatakan perubahan biologis yang meliputi morfologi dan fisiologi yang terjadi dengan pesat dari masa anak ke masa dewasa. Terutama kapasitas reproduksi yaitu perubahan alat kelamin dari tahap anak ke dewasa.

Sedangkan yang dimaksud dengan istilah adolesen, dulu merupakan sinonim dari pubertas, sekarang lebih ditekankan untuk menyatakan perubahan psikososial yang menyertai pubertas. Walaupun begitu, akselerasi pertumbuhan somatic yang merupakan bagian dari perubahan fisik pada pubertas , disebut sebagai pacu tumbuh adolesen (adolescent growth spurt)

Berdasarkan umur kronologis dan berbagai kepentingan, terdapat berbagai definisi tentang remaja, yaitu:

  1. Pada buku-buku pediatri, pada umumnya mendefinisikan remaja adalah : bila seorang anak telah mencapai umur 10-18 tahun untuk anak perempuan dan 12-20 tahun untuk anak alki-laki.
  2. Menurut undang-undang No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah individu yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah.
  3. Menurut undang-undang perburuhan, anak dianggap remaja bila telah mencapai umur 16-18 taun atau sudah menikah dan mempunyai tempat untuk tinggal.
  4. Menurut Undang-Undang perkawinan No.1 tahun 1979, anak dianggap sudah remaja apabila cukup matang untuk menikah, yaitu 16 taun untuk anak perempuan dan 19 tahun untuk anak laki-laki
  5. Menurut Diknas anak dianggap remaja bila anak sudah berumur 18 tahun, yang sesuai dengan saat lulus Sekolah Menengah
  6. Menurut WHO, remaja bila anak telah mencapai umur 10-18 tahun.]

Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikolosial dan seksual, semua remaja akan melewati tahapan berikut :

  1. masa remaja awal/dini (Early adolescence): umur 11-13 tahun
  2. masa remaja pertengahan ( Midle adolescence)
  3. Masa remaja lanjut (late adolescence)

Tahapan ini mengikuti pola yang konsisten untuk masing-masing individu. Walaupun setiap tahap mempunyai ciri tersendiri tetapi tidak mempunyai batas yang jelas, karena proses tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan.

CIRI-CIRI PERTUMBUHAN SOMATIK REMAJA

Pada masa praremaja pertumnbuhna lebih cepat daripada masa prasekolah, keterampilan dan intelektual makin berkembang, senang bermain berkelompok dengan teman yang berjenis kelamin sama. Anak perempuan 2 tahun lebih cepat memasuki masa remaja  daripada laki-laki. Masa ini merupakan transisi dari masa anak ke dewasa. Pada masa ini terjadi pacu tumbuh berat badan dan tinggi badan yang disebut sebagai pacu. Tumbuh adolesen, terjadi opertumbuhan yang pesat dari alat-alat kelamin dan timbulnya tanda-tandaseks sekunder. Dibawah ini  adalah ciri-ciri pertumbuhan somatic remaja yaitu :

  1. perubahan adalah ciri utama dari proses biologis pubertas. System regulasi hormone di hipotalamus, pituitary, kelamin (gonad), dan kelenjar adrenal akan menyebabkan perubaha kualitatif dan kuantitatif pada masa prapubertas sampai pertumbuhan yang cepat dari tinggi badan dan berat badan; perubahan komposisi tubuh dan jaringan; timbulnya tanda-tanda seks primer dan sekunder, dan hasilnya adalah boy into a man dan girl into a women
  2. perubahan somatic sangat bervariasi dalam umur saat mulai berakhirnya, kecepatan dan sifatnya, tergantung pada masing-masing individu. Karena variasi yang lebar tersebut, maka tanner mengatakan bahwa seorang dapat membuat generalisasi dari masa pubertas. Sulit untuk mendefinisikan batas normal pada beberapa keadaan tertentu; dan umur terjadinya berbagai perubahan lebih baik dinyatakan dalam umur rata-rata daripada nilai yang pasti.
  3. walaupun terdapat variasi dalam umur saat timbulnya perubahan-perubahan selama pubertas, tetapi setiap remaja mengikuti sikuen/urutan yang sama dalam pertumbuhan somatiknya. Sebagai contoh, pada pubertas laki-laki yang normal, androgen yang berasal dari pembersaran testis mengakibatkanpenis bertambah panjang danbesar, tumbuhnya rambut seksual, dan pertumbuhan tinggi badan (TB) yang pesat. Bila remaja laki-laki telah mengalami pertumbuhan seks sekunder dan mengalami pacu tumbuh sebelum pembesaran testis, harus dipikirkan kemungkinan adanya sumber androgen ekstra testicular, seperti dari kelenjar adrenal atau dari anabolic steroid eksogen.
  4. timbulnya ciri-ciri seks sekunder merupakan manifestasi somatic dari aktifitas gonad dan dibagi dalam beberapa tahap yang berurutan, yang oleh tanner disebut sebagai Sexual Maturity Rating (SMR)atau tingkat kematangan seksual (TKS). Terdapata 5 tahap pertumbuhan fisik dari pubertas (TKS 1) ke dewasa (TKS 5), yang disebut sebagai Tanner Stages. Memasukan rambut pubis ke dalam criteria, agak kurang valid dibandingkan dengan criteria genital dalam menilai maturasi seksual. Karena pertumbuhan rambut pubis lebih berkaitan dengan kelenjar adrenal (misalnya adrenarche atau pubarche)daripada kelenjar gonad. Adanya hormone androgen adrenal (dehidroepian drosterone dan dehydroepiandrosterone sulfate) pada umur sekitar 8 tahun, mengakibatkan mulai tumbuhnya rambut pubis yang jumlahnya sekitar beberapa lembar, walaupun demikian, seringkali aktifitas genital dan adrenal terjadi bersamaan.

TKS berhubungan dengan maturasi pertumbuhan fisik, yang lebih baik diukur dengan umur tulang daripada dengan umur kronologis. TKS juga berhubungan dengan kondisi medik tertentu seperti akne, ginekomasti, scoliosis, dan slipped capital femoral epiphysi, dan peningkatan askalin fosfatase pada kedua jenis kelamin, serta peningkatan kadar hemoglobin pada remaja laki-laki.

  1. Pertumbuhan somatic pada remaja, mengalami perubahan pada abad terakhir dalam ukuran dan umur mulainya remaja, hal ini disebabkan adanya perbaikan gizi dan lingkungan. Kecendrungan sekuler (secular trend) ini meliputi pertumbuhan yang lebih tinggi dan mulainya lebih awal, telah terjadi baik dinegara maju maupun dinegara berkembang. Tetapi pada 30 tahun terakhir kecendrungan ini telah mencapai plateau. Selain itu faktor etnik dan lingkungan mempengaruhi mulainya masa remaja. Dikatakan bahwa remaja yang tinggal di daerah rural, tumbuh kembang somatiknya agak lebih lambat bila dibandingkan dengan remaja yang tinggal di daerah urban.

Terdapat ciri yang pasti dari pertumbuhan somatic pada remaja, yaitu peningakatan masa tulang, otot massa lemak, kenaikan berat badan, perubahan biokimia, yang terjadi pada ke dua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan walaupun polanyaberbeda. Selain itu terdapat kekhususan (sex specific), seperti pertumbuhan payudara pada remaja perempuan dan rambut muka (kumis, jenggot)pada remaja laki-laki.

GANGGUAN MAKAN PADA REMAJA

I Gusti Lanang Sidiartha, Soetjiningsih

PENDAHULUAN

Gangguan makan yang sering terjadi pada remaja adalah Anorexia Nervosa (AN) dan Bulimia Nervosa (BN). Angka kejadian AN dan BN nampak mengalami peningkatan selama dekade terakhir. Dilaporkan sekitar 1 dari 100 remaja perempuan umur antara 16-18 tahun menderita AN. Puncak angka kejadian AN pada remaja umur 14,5 tahun. Remaja perempuan lebih banyak mengalami ganguan makan dibandingkan dengan remaja laki-laki dengan perbandingan 10:1.

Kasus ganguan makan tersebar luas dinegara maju, bahkan sampai juga dinegara-negara yang sedang berkembang. Kasus ini dapat terjadi pada kelompok masyarakat dengan status sosial-ekonomi menengah ke atas, namun pada saat ini sudah menyebar sampai pada kelompok sosial-ekonomi rendah. Bulimia Nervosa lebih sering terjadi dibandingkan dengan Anoreksia Nervosa. Fokus pembahasan bab ini meliputi Anoreksia Nervosa dan Bulimia Nervosa.

ANOREKSIA NERVOSA

Anoreksia Nervosa (AN) merupakan suatu kelainan berupa penurunan berat badan secara drastis terutama pada remaja putri yang berhubungan dengan ganguan psikiatri disertai dengan gejala medis. Pertama kali diketahui tiga abad yang lalu akan tetapi akhir-akhir ini insidennya meningkat dengan pesat. Sekitar 0,5% remaja putrid mengalami sindroma AN ini dan 5% diantaranya dengan bentuk subklinis yang ringan. Penderita AN lebih banyak pada remaja dari keluarga dengan status sosial ekonomi lebih tingi dengan umur antara 16-24 tahun. Para ahli kesehatan sangat tertarik dengan AN ini karena AN termasuk penyakit yang serius dan melibatkan berbagai disiplin ilmu. Meskipun angka kematiannya telah turun menjadi kurang dari 5%, namun beberapa penderita tidak sembuh bahkan menjadi kronis.

Etiologi

Faktor-faktor predisposisi terjadinya AN adalah faktor biologis dan genetic, faktor intrapersonal, faktor keluarga, dan faktor sosial budaya. Perpaduan berbagai faktor predisposisi ini menyebabkan AN lebih tepat disebut suatu sindrom daripada suatu penyakit tertentu. Selanjutnya dibutuhkan pendekatan biopsikososialuntuk mengevaluasi dan mengobati penderita AN.

Faktor biologis dan genetic

Disfungsi hypothalamus diketahui sebagai predisposisi timbulnya AN pada remaja. Disamping itu kasus AN dilaporkan lebih tinggi pada remaja kembar monozygot dibandingkan kembar dizigot. Riwayat keluarga yang mempunyai penderita AN juga mempunyai resiko lebih tinggi terkena AN.

Faktor Intrapersonal

Remaja yang mengalamitingkat kecemasan yang tinggi. Mereka cenderung introvert, obsesif dan perfeksionis. Bahkan banyak remaja yang memiliki gangguan afektif seperti depresi.

Faktor Keluarga

Pada umumnya seorang remaja aka tumbuh dan berkembangn menjadi individu yang bebas dan mandiri sebagai persiapan untuk terlepas dari keluarga.namun pada keluarga yang mengalami disharmoni proses ini terhambat. Dilaporkan bahwa ciri-ciri keluarga yang mempunyai resiko AN pada remaja adalahkeluarga yang overprotektif, kaku dengan penuh konflik. Ibu yang mengontrol dan ayah yang jauh dari figure idola adalah factor resiko timbulnya AN pada remaja dalam keluarga tersebut.

Faktor sosial budaya

Kasus AN meningkat pada kelompok masyarakat yang mempercayai bahwa tubuh yang ramping lebih menarik, mempunyai rasa percaya diri lebih tinggi dan sukses dalam berkariri, sehingga para remaja berlomba-lomba untuk memiliki tubuh yang ramping. Puncak kejadian AN adalah pada remaja awal dan memulai untuk hidup mandiri yang terkadang menyebabkan timbulnya konflik dalam keluarga. Pada sub populasi tertentu kasus AN pada remaja juga meningkat, yang dibagimenjadi dua kelompok yaitu pertama kelompok remaja dengan kegiatan ekstrakurikuler yang menuntut pengendalian berat badan seperti tari balet dan kelompok kedua pada remaja yang menderita penyakit kronis seperti diabetes melitus.

Manifestasi Klinis

Penderita AN tipikal adalah seorang gadis yang meulai membatasi makan (diet) oleh karena berat badan yang berlebihan, biasanya 2,5 sampai 7,6 kg diatas berat badan ideal. Penderita tersebut berdiet karena kritikan temannya, keluarga atau karena persepsi sendiri yang menganggap bahwa berat badannya di atas berat badan ideal. Pada remaja normal yang berdiet untuk mencapai berat badan yang di inginkannya kan berhasil, namun penderita AN terus mengalami suatu oikiran yang berlebihan akan ukuran tubuhnya dan bahkan penderita yangberatnya 35 kg mengatakan bahwa dirinya masih gemuk.

Gambaran Psikologis

Kepribadian premorbid penderita AN pada umumnya adalah seorang perfeksionis, pengkritik diri sendiri, danobsesif. Secara intelektual penderita AN cerdas, kadang-kadang memiliki IQ antara 110 sampai 125 dan umumnya unggul disekolah. Oleh karena berat badannya berkurang maka kepribadian penderita AN mengalami perubahan. Penderita AM menjadi apatis, dan tidak mampu untuk menikmati atau mengekspresikan kebahagiaan. Penderita seringkali menjadi tertekan dan tak ada gairah dan lekas marah, malas bergaul dan akhirnya makin terisolasi. Secara psikopatologi, sebenarnya AN tidak cocok dengan kategori penyakit psikiati. Ada pula para ahli, yang mengaitkan AN dengan gangguan obsesif, penyakit depresi atau schizophrenia, tetapi bukan merupakan variasi dari penyakit tersebut. Pnederita AN sering merupakan anggota dari keluarga yang sedang mengalami stress kronis karena perceraian yang tidak dikehendaki atau pindah dari suatu tempat ke tempat lain.

Tingkah laku makan

Perubahan yang mencolok terjadi adalah tingkah laku makan dimana penderita membatasi asupan makanan secara berlebihan terutama makanan yang  berkalori tinggi. Makanan dipotong menjadi beberapa bagian dan dibuat sedemikian rupa sehingga tidak menarik dengan bumbu yang berlebihan atau campuran yang tidak wajar. Beberapa dari penderita menggunakan minuman keras untuk membatasi rasa takut akan kegemukan dan berusaha untuk menjadi kurus.

Distorsi penampilan tubuh

Suatu gambaran yang khas dari penderita AN adalah adanya penyimpangan/distorsi tentang persepsi penampilan tubuh yaitu estimasi yang berlebihan tentang ukuran tubuh. Sejumlah cara telah dibuatuntuk menguji gejala ini. slade dan Russel menggunakan seperangkat lampu cahaya  yang dapat bergerak dalam suatu ruangan gelap penderita menunjukan bahwa lebar muka, punggung, pinggang dan pingul telah dicapai sesuai keinginan. Garfinkel dan kelompoknya menggunakan lensa-lensa distorsi dan membiarkan penderita untuk mengidentifikasi ukuran yng di rasakan. Penderita AN mengestimasikan ukuran tubuhnya secara berlebihan hingga 20% sampai 80% diatas ukuran sebenarnya. Dengan menggunakan On Draw – A Person Testing penderita AN menggambarkan bahwa dirinya lebih besar dari yang sesungguhnya, tetapi bila diminta untuk menggambarkan dirinya seperti apa yang dilihat dokter memberikan respon dengan perhatian yang sedikit.

Faktor Sosial

Fkator psykologis dan tingkah laku di masyarakat yang menekankan bahwa tubuh yang ramping sebagai model orang yang sehat dan menarik. Ada suatu kecendrungan yang menyatakan bahwa makin tinggi status sosial, makin ramping bentuk tubuhnya.

Diagnosis

Anoreksia Nervosa seringkali di diagnosis dengan mengesampingkan penyakit-penyakit  medis dan psikiatrik lainnya yang berhubungan dengan penurunan berat badan. Pada saat ini criteria AN yang jelas dan dapar dipercaya telah diformulasikan berdasarkan tanda dan gejala-gejalanya. Beberapa gejala penting untuk mendiagnosis AN adalah:

  1. Gejala tingkah laku berupa membiarkan dirinya kelaparan
  2. Gejala psikologis berupa ketakutan menjadi gemuk sehingga menghindari makanan
  3. gejala fisiologis berupa ganguan fungsi hormone reproduksi

Berdasarkan hal diatas maka AN lebih tepat disebut suatu sindrom daripada suatu penyakit dengan penyebab spesifik.

Varian AN perlu dibedakan antara AN primer dan sekunder dan antara bentuk tipikal dengan atipikal. Hal ini perlu dilakukan karena berhubungan dengan perbedaan pengobatan dan hasilnya.

AN primer dan tipikal

Menurut Russel criteria AN primer dan tipikal meliputi : (1) membiarkan diri kelaparan. (2) ketakutan akan hilangnya control makan sehingga menjadi gemuk, meskipun kenyataannnya kurus dan ringan, dan (3) terjadinya amenore pada wanita dan kehilangan gairanh seksual pada pria. Sedangkan The Phipps Psychiatric Service of the Johns Hopkins Hospital menggunakan criteria the American Psychiaatric Association’s third Edition of Diagnostic and Statistical (DSM III)yaitu:

– Ketakutan menjadi gemuk yang berlebihan sehingga tejadi penurunan berat badan secara   drastis

– Gangguan akan penampila tubuh (misalnya merasa kegemukan sehingga berusaha tidak  makan)

–  Penurunan berat badan sedikitnya 25% dari berat badan semula atau bila berumur dibawah 18        tahun penurunan berat badan semula dikombinasikan dengan berat badan berdasarkan table pertumbuhan menurun 25%

– Pada usia lanjut terjadi penolakan untuk mempertahankan berat badan di atas nilai normal

– Tidak mengalami penyakit fisik lain yang diketahui juga dapat menurunkan berat badan.

Kriteria tersebut diatas penting dan memiliki psikopatologi yang sama walaupun bersifat lebih kuantitatif. Suatu proposal telahdibuat untuk merevisi kriteria diatas dimana bukan penurunan 25 % dari berat badan yang penting, akan tetapi penolakan untuk memelihara berat badan yang normal. Criteria yang dikehendaki juga menambahkan suatu syarat yaitu minimal 3 bulan amenore (meskipun tidak berlaku untuk laki-laki).

Diagnosis AN sebaiknya dipertimbangkan bila setiap anak remaja yang mulai diet berkepanjangan sampai berat badan dibawah normal, khususnya bila terdapat pemikiran untuk menghindari makanan karena rasa rakut akan gemuk dan distorsi persepsi yang berlebihan akan bentuk/ukuran tubuh meskipun sindrom ini sering ditemukan pada remaja perempuan, namun perlu juga dipertimbangkan pada remaja pria apabila dijumpai gejala yang sama. Pada decade terakhir ini terjadi peningkatan usaha merampingkan tubuh melalui latihan dan pembatasan makanan baik pada pria maupun wanita.

AN sekunder dan tipikal

Istilah AN sekunder digunakan untuk kondisi dimana penurunan berat badan diketahui sebagai akibat kelainan medis atau ganguan psikiatri. Implikasi dari diagnosis ini adalah pendekatan terapi terhadap penyakit yang mendasari bukan anoreksianya saja.sebagai contohterapi penyakit depresi dengan obat anti depressan sehingga dapat memperbaiki penurunan berat badan penderita.

Kelainan medis yang dapat menimbulkan penurunan berat badan adalah penyakit system saraf (terutama tumcr hipotalamus), penyakit endokrin (tiroid, adrenal,pituitary), malabsorpsi, dan diabetes melitus) sedangkan kelainan psikiatri adalah depresi, keadaan depresi, keadaan obsesif (globus hystericus), penyalah gunaan obat stimulandan schizophrenia.

Penatalaksanaan

Telah disepakati selama beberap dekade bahwa rehabilitasi nutrisi maupun psikoterapi sangat efektif untuk menangani penderita AN. Dalam setiap pendekatan terapi secara mutlak penting untuk tidak menyalahgunakan penderita sendiri ataupun keluarganya dan usaha memberikan nasehat merupakan teknik yang baik.

Dalam penatalaksanaan penderita AN, harus dibedakan antara penderita rawat inap dengan rawat jalan. Secara umum penderita yang rawat inap adalah bila terjadi penurunan berat badan yang berat/drastis, bila penanganan rawat jalan tidak berhasil, dan/atau terdapat abnormalitas metabolik seperti alkalosis hipokalemik.

Penatalaksanaan Penderita Rawat inap

Rehabilitasi penderita yang diarawat inap dilaksanakan dengan suatu tatanan yang terstruktur dengan supervise selama 24 jam sehari. Penanganan penderita menghendaki cara seperti ini oleh karena penderita cenderung untuk menghindari makan atau makan yang tidak memadai disamping karena penderita mengalami depresi dan cemas.suatu cara yang pendekatan tim dengan melibatkan ahli gizi, psikiater, perawat dan pekerja sosial nampaknya berhasil menangani penderita AN dengan baik.

Penatalaksanaan yang disarankan terdiri dari :

  1. Rehabilitasi nutrisi
  2. Psikoterapi
  3. Periode/masa pemulihan
  4. Tindak lanjut/follow up.

Rehabilitasi Nutrisi. Ahli gizi penting sekali untuk mengetahui semua fase-fase panatalaksanaan ini. Mula-mula ahli gizi yang professional akan melakukan evaluasi pola makan penderita sebelum dirawat inap untuk mengidentifikasi kemungkinan defisiensi nutrisi dan vitamin. Kemudian disusun diet penderita yang terstruktur sesuai dengan kebutuhan penderita yang berbeda antara satu penderita dengan penderita yang lainnya. Keinginan untuk kembali ke berat badan yang normal harus disesuaikan dengan geja;-gejala yang terjadi selama masa rahabilitasi. Keluhan yang sering terjadi adalah ganguan gastrointestinal yang non spesifik dan edema perifer. Kebanyakan gangguan gastrointestinal bersifat ringan dan non spesifik dan dapat diatasi dengan dorongan/semangat dan mengurangi kalori yang masuk.penderita yang mengalami kelaparan yang parah serng dimulai dengan 1400 kkal sampai 1600 kkal perhari dan menghindari  lemak, produk-produk dari susudan yang manis-manis, cara ini secara bertahapditingkatkan dalam beberapa minggu sampai mencapai 3500-4000kkal perhari dan berat badan yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. Edema yang terjadi paling efektif diatasi dengan mengurangi asupan garam, dengan menganjurkan elevasi kaki beberapa saat dalam sehari bila perlu dapat menggunakan kaos kaki operasi.

Obata-obatan kadang diperlukan, dan biasanya diberikan anti cemas (bila cemas)dengan dosis kecil. Apabila terdapat gejala depresi yang berat dan menetap setelah rehabilitasi nutrisi dapat diberikan obat antidepresan.

Psikoterapi dimasa lalu, psikiater memberikan adanya gejala psikodinamik spesifik pada semua penderita AN. Namun pada kenyataannya saat ini psikoterapi harus bersifat individual. Gejala/keluhan yang sering adalah takut lepas control, rasa was-was dari dalam diri terhadap kurangnya efektifitas, dan takut terhadap perkembangan seks. Kelompok terapi ini sering membiarkan para penderita untuk dapat masukan umpan balik sosial dari orang lain ke dalam persepsi penderita. Penting sekali keluarga berpartisipasi untuk memahami kelainan penderita ini dan termasuk aspek penanganan keluarga. Psikoterapi mencakup bantuan terhadap penderita menidentifikasi status emosional dan menangani secara langsung dengan menggunakan pendekatan makanan.

Pemeliharaan dan tindak lanjut. Penderita yang telah kembali pada  berat badan yang optimal diberikan tanggung jawab untuk memilih makan dan latihan secara bertahap dengan bantuan tenaga professional. Sebelum penanganan penderita dihentikan, penting sekali penderita diberikan pemahaman tentang nutrisi yang adequate dan cara memilih makanan yang memadai dengan pola makan yang seimbang sesuai dengan kebutuhan penderita.

Penderita yang dapat sembuh total dari AN hanya sedikit. Sekitar 50% penderita akan kembali menunjukan gejala-gejala AN apabila mengalami stress. Sedangkan sekitar 25% sampai 30% penderita mengalami kronisitas dan sering memerlukan rawat inap.

Secara umum tujuan penanganan tersebut dapat diringkas sebagai berikut :

  1. Berat badan normal(persentil 25 sampai 50).
  2. Tingkah laku makan yang normal
  3. Kematangan sosial dan psikologi, meliputi
  1. Pemahaman temperamen diri sendiri.
  2. Kesanggupan untuk menerima kematangan dri dan bertanggung  jawab terhadap tingkah lakunya sendiri.
  3. Kecakapan sosial yang sesuai dengan umur.
  4. Bersikap tegas.
  1. Tidak ada preokupasi terhadap makanan atau berat badan.
  2. Menstruasi yang normal pada wanita,dorongan seksual yang normal pada pria dan wanita
  3. Kembali bekerja atau sekolah dengan fungsi yang efektif.
  4. Hubungan kerja yang memuaskan.
  5. Kemampuan diri yang cakap.

Penatalaksanaan penderita rawat jalan

Penderita AN dapat menjalani rawat jalan apabila penurunan berat badan tidak drastic, tidak menunujukan kepribadian yang abnormal, dan keluarga tidak mengalami stress yang berat.

Beberapa cara yang dapat membantu penatalaksanaan penderita AN yang menjalanirawat jalan adalah sebagai berikut.

  1. Penderita diminta untuk menyimpan catatan penting tentang apa, dimana dan kapan penderita makan, tanggapan emosional, dan kejadian-kejadian penting lainnya.
  2. Harus dibina hubungan kerjasama antara penyaji dan penderita dimana keduanya merasakan bahwa mereka mempunyai suatu tujuan yang harus dicapai dalam pengobatan.
  3. Penekanan tentang rehabilitasi nutrisi secara simultan.

Pencegahan

Cara yang efektif untuk mencegah AN tidak ada, namun ada beberapa cara yang mungkin berguna untuk mencegah AN. Cara-cara tersebut diantaranya adalah penyebar luasan informasi tentang tanda-tanda dan gejala AN secara dini dan melakukan penanganan secara dini pula; mengubah persepsi masyarakat bahwa tubuh yang langsing bukan satu-satunya daya tarik seseorang dan cermin kesuksesan berkarir; dan pendidikan yang memadai tentang nutrisi serta penjelasan mengenai AN pada sekolah-sekolah menengah. Kemudian sangat diperlukan kewaspadaan orang tua, guru atau yang lain terhadap anak remaja yang mulai berdiet.

BULIMIA NERVOSA

Bulimia Nervosa (BN) adalah gangguan makan yang ditandai dengan episode binge ecting disertai tingkah laku untuk menurunkan berat badan seperti merangsang muntah, gerak berlebihan, puasa berkepanjangan, penyalahgunaan laksan dan diuretic. Kata bulimia berasal dari bahasa latin yang artinya lembu kelaparan. BN baru dikenal sebagai gangguan tersendiri sejak 1970-an, meskipun sudah diuraikan pada deskripsi Gull tahun 1974,. Banayk sarjana yang mengira bahwa BN dan AN berkaitan satu sama lain. Pada BN badan yang kurus bukan disebabkan karena anoreksia dan bahkan beberapa individu mempunyai berat badan normal. Para penderita bulimia biasanya menyadari bahwa pola makannnya abnormal.

BN biasanya terjadi pada masa remaja akhir atau dewasa muda, namun mempunyai rentang umur yang lebar yaitu antara 13 58 tahun. Sekitar 90-95% BN mengenai remaja putri. Dinegara maju angka kejadian BN sekitar 13%. Mula-mula BN dilaporkan hanya mengenai kelompok masyarakat dengan status-sosial ekonomi tinggi, namun belakangan dilaopkan dapat mengenai semua kelompok masyarakat.

Etiologi

Penyebab BN dapat dijelaskan dengan pendekatan beberapa jenis model yaitu:

–   model adiksi. BN diyakini sebagai adiksi terhadap makanan dan tingkah laku. Hal ini berhubungan denganpengobatan BN yang menekankan pada penghentian, dukungan sosial dan mencegah kekambuhan, dimana metode ini mirip dengan pengobatan adiksi terhadap alcohol maupun obat-obatan.

–   Model keluarga. Ganguan makan pada remaja berhubungan denga system interaksi dalam keluarga. Oleh karena itu fokus pengobatan penderita BN adalah disfungsi interaksi dalam keluarga. Penderita BN umumnya memiliki riwayat kekerasan fisik maupun seksual semasa anak-anak.

–   Model sosial budaya. Publikasi media tentang hubungan antara tubuh yang langsing dengan karir yang sukses telah merangsang para remaja untuk melakukan diet supaya tubuhnya menjadi langsing. Banyak remaja yang gagal mencapai keadaan ini dan akhirnya menjadi penderita BN

–   Model kognitif dan tingkah laku. BN merupakan implementasi tingkah laku yang irasional tentang bentuk tubuh, berat badan, diet dan kepercayaan diri. Focus pengobatan adalah mengidentifikasi disfungsi ini dan membantu menumbuhkan keyakinan yang rasional. Penderita diberikan jadwak makan yang jelas dan teratur.

–   Model psikodinamik.BN merupakan usaha untuk mengendalikan atau menghindari dampak perasaan yang tertekan, impulsive dan kecemasan. Pengobatan psikodinamik adalah mencari proses yang mendasari penderita BN terutama gambaran psikososialnya.

Manifestasi Klinis

BN memiliki beberapa cirri khas yaitu binge eating, purging, dan body imagedesrtai dengan gangguan psikologi berupa depresi.

Binge Eating

Binge eating artinya mengkonsumsi makanan yang banyak dalam periode waktu yang singkat. Pada saat spisode binge terjadi kehilangan kendali terhadap makanan. Penderita BN dapat mengkonsumsi makanan sekitar 3000 7000 kkal per episode binge. Episode binge sring timbul pada waktu yang sama setiap hari atau timbul sebagai akibat rangsangan emosional seperti depresi, jemu atau marah dan kemudian di ikuti oleh periode puasa berkepanjangan.

Purging

Penderita BN menempuh beberapa cara untuk menolak dampak dari makanan yang berlebihan. Paling sering adalah dengan cara memuntahkan makanan dengan jalan merangsang faring atau secara spontan dengan menggunakan sirup ipecac. Disamping itu, cara lainnya adalah menggunakan laksan, diuretik, dan enema serta dengan jalan melakukan latihan fisik berlebihan

Body image.

Penderita BN memiliki persepsi yang keliru tentang berat badan dan bentuk tubuhnya. Mereka mereasa kelebihan berat badan atau gemuk, meskipun pada kenyataannya berat badannya dalam batas normal. Persepsi yang keliru ini menyebabkan penderita BN berusaha menurunkan berat badannya. Sebaliknya pada saat tertentu terjadi kehilangan kontrol terhadap pembatasan makan, sehingga timbul episode binge eating.

Depresi

Gejala psikologis penderita BN adalah depresi. Pengelaman episode binge eating dan purging menimbulkan rasa bersalah, penyesalan yang dalam dan perasaan malu. Sebaliknya keadaan depresi juga menyebabkan timbulnya gangguan makan dan episode binge.

Gejala dan teknis klinis

Gejala-gejala dan tanda klinis adalah sebagai berikut:

  1. Gejala-gejala BN:
    1. Pembengkakan pada tangan dan kaki
    2. Lemah dan lelah
    3. Sakit kepala
    4. Perut terasa penuh
    5. Mual-mual
    6. Haid tidak teratur
    7. Kram otot
    8. Kram otot
    9. Mudah mengalami pendarahan (karena hipokalemia disfungsi platelet)
    10. Diare berdarah (pada penyalah gunaan laksan)

Tabel 11.1. Perbedaan dan persamaan antara AN dan BN

Karakteristik AN BN
Epidemiologi 90% remaja putri

Riwayat gangguan makan pada keluarga

Onset pada remaja awal

Prevalensi <1%

Sama

Sama

Usia lebih tua

1-4%

Sama

Psikopatologi Takut akan kenaikan BB/menjadi gemuk

Mengurangi makan

Binge eating and purging behaviors

Rahasia tingkah laku

Binge eating tidal harus

Tidak ada kemauan untuk berhenti

Sama

Sama

Sama

Sama

Harus ada

Ingin orang lain untuk menghentikan

Tanda fisik berat

badan

Haid

Harus <15% berat normal

Harus amenore

Bisa kurang, lebih atau normal

Bisa normal,ireguler atau tidak

haid

  1. Tanda-tanda lain dari BN:
    1. perubahan kulit: terutama bagian dorsum jari berhubungan dengan penggunaan jari untuk membuatmuntah meliputi hiperpigmentasi, kalus atau luka parut
    2. pembesaran kelenjar ludah, terutama kelenjar parotis bilateral tanpa nyeri
    3. Erosi email gigi (perimolosis), biasanya pada permukaan gigibagian lingual, palatal dan posterior.

Diagnosis

kriteria diagnosis BN menurut DSM-IV adalah:

  1. Episode binge eating berualang. Episode binge eating ditandai dengan 2 hal berikut:
    1. makan denga periode waktu tertentu (misalnya setiap 2 jam sekali)dengan porsi yang banyak melebihi biasanya.
    2. Perasaan tidak mampu mengontrol kelebihan makan selama episode binge (misalny perasaan tidak mampu menghentikan makan atau seberapa banyak harus makan)
    3. Pengulangan tingkah laku untuk menurunkan berat badan seperti membuat muntah, penyalahgunaan laksan, diuretic, atau enema, puasa atau latihan berlebihan.
    4. Episode binge dan tingkah laku menurunkan berat badan minimal dua kali seminggu selama 3 bulan.
    5. Evaluasi diri sangat dipengaruhi oleh bentuk dan berat badan
    6. ganguan tidak terjadi selama episode AN

BN di bagi menjadi dua tipe yaitu :

  1. Tipe purging. Selama episode BN penderita secara teratur merangsang muntah atau menyalahgunakan laksan, diuretic atau enema.
  2. Tipe non purging. Selama episode BN penderita menggunakan cara lain seperti puasa, atau gerak fisik berlebihan.

Diagnosis banding

BN perlu dbedakan dengan AN, depresi dan gangguan kepribadian. Antara BN dan AN terdapat persamaan maupun perbedaan seperti terlihat pada tabel berikut ini.

Gangguan afektif sering menyertai penderita BN, sehingga perlu dibedakan dengan gangguan depresi. Pada penderita BN dapat dijumpai gejala vegetatif dari gangguan afektif seperti kehilangan libido, deficit, konsentrasi dan penolakan sosial.

Remaja yang memiliki gangguan kepribadian cenderung menderita BN, sedangkan pada dewasa sekitar spertiga BN memiliki dasar gangguan kepribadian.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan penderita BN memerlukan pendekatan psikologis maupun farmakologis. Pendekatan psikologis secara individual, keluarga maupun berkelompok yang dikombinasikan dengan pendekatan farmakologis memberikan kesembuhan yang baik.

Prinsip penatalaksanaa BN adalah:

–   Fokus utama pengobatan adalah menurunan pola makan ala bulimic

–   Hindari makanan yang merangsang pola makan binge seperti es krim

–   Obati depresi yang biasanya menyertai bulimia

–   Libatkan para remaja dalam psikoterapi individu dengan atau tanpa melibatkan keluarga

–   Latihan olah raga yang ringan sampai sedang

–   Berikan obat antidepresan

–   Terapi kelompok sangat membantu penyembuhan

–   Bila penderita menggunakan diuretij, berikan diet rendah garam karena terjadi retensi cairan bila diuretic dihentikan.

–   Konsultasi ke dokter gigi untuk menangani kerusakan pada gigi

Obat anti depresan seperti imipramine dapat diberikan dengan dosis 3-5 mg/kgBB/hari, dinaikan bertahap setiap minggu sampai dosis 300 mg/hari atau terdapat respon klinis yang adekuat.

Prognosis

Dilaporkan bahwa kasusu kematian pada penderita BN tidak ada, berat badan menjadi normal, 29-87% mengalami pola makan binge, 28-77% memiliki episode muntah, 3-13 % penyalahgunaan laksan dan 15-36% mengalami depresi.

Selanjutnya dilaporkan bahwa 74% penderita BN mengalami kesembuhan total sedangkan penderita AN hanya 33%.. sekitar 83% AN dan 99% BN mengalami penyembuhan parsial. Kekambuhan terjadi sekitar 1/3 nya baik pad AN maupun BN.

Kesimpulan

Gangguan makan seperti Anoreksia Nervosa dan Bulimia Nervosa sangat sering terjadi pada masa remaja. Hal ini disebabkan oleh karena masa remaja sebagai peralihan masa anak ke masa dewasa penuh dengan konflik baik dalam diri maupun dengan lingkungan keluarga dan masyarakat disekitarnya sebagai jenjang menuju kemandirian dan eksistensi diri.

Oleh Karen itu apabila menjumpai remaja terutama remaja putri yang memulai melakukan diet waspadailah akan timbulnya Anoreksia atau Bulimia Nervosa.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Soetjiningsih ,Prof.Dr.SpA(K),IBCLC(penyunting) dalam Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya.Cet.2.-Jakarta;sagung seto 2007:97-105
  2. Anderson AE.Anoreksia Nervosa. Dalam : Paige DM (penyunting). Clinical Nutrition. Edisi ke-2 Toronto : The C.V .Mosby Company,1988:408-417.
  3. Neinstein LS, Mackenzie. Anoreksia Nervosa and Bulimia NervosaS. Dalam : Neinstein LS(penyunting). Adolescent Health care A Practical Guide. Edisi ke -4..Philadelphia : Lippincot Williams&Wilkins,2002:2007-726.
  4. Nussbaum MP. Anoreksia Nervosa. Dalam McAnarney ER, Kreipe RE, Orr DP, Comerci GD (penyunting). Textbook of adolescent Medicine. Philadelphia: W.B. saunders Company, 1992:536-541
  5. Shenker R, Bunnell DW. Bulimia Nervosa. Dalam:McAnarney ER, Kreipe RE,Orr DP, Comerci GD (penyunting). Textbook of adolescent Medicine. Philadelphia:W.B.Saunders Company, 1992:542-546.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: